Menjadi Guru Jaman Now: Hadir di Kontak Real, Bukan Virtual

Rekoleksi SBG Dekenat Bekasi, 13 Jan 2018

SIE PENDIDIKAN SANBARTO – Setelah pelatihan 5 level of Leadership pada bulan Nov 2017 lalu, kembali SBG Dekenat Bekasi mengundang rekan-rekan insan Pendidik dalam acara Rekoleksi & Temu kangen Natalan bersama. Bertempat di Sekolah Victory Plus, Kemang Pratama, acara ini dihadiri oleh 40 sekolah dengan 252 peserta dari 8 paroki. Rekoleksi ini dibawakan oleh Rm. Agustinus Purwantoro, SJ atau lebih dikenal Romo Ipung, dari Paroki Kampung Sawah. Terima kasih atas support dari seluruh sie Pendidikan, pengurus SBG seDekenat Bekasi dan Bu Mari Sidharta dari BDA – KAJ.

Pada awal sambutan, Ketua SBG Fx. Handoko memberikan ilustrasi tentang jaman Now, di mana banyak sekali perubahan yang cepat, tidak terduga dan kadang membingungkan… termasuk pada situasi sekarang di sekolah kita masing-masing, …banyak siswa gagal fokus. Sebagai guru, apa yang harus kita lakukan?

Alur rekoleksi ini dibuat mengalir saja dengan imajinasi rohani. Dimulai dari gambar Maria mengunjungi Elizabeth yang sedang hamil, yang merupakan refleksi bahwa dalam rahim ada kehidupan baru, dan Bunda Maria sebagai lambang pelindung kehidupan/ pro life, di mana kita sebagai guru harus pelihara benih kehidupan ini dengan dikembangkan maksimal karakter dan potensinya.

Optio fundamentalis

Banyak komentar peserta sewaktu ditayangkan gambar di mana Yesus sedang dibaptis, antara lain “Yesus ingin menjadi seperti manusia biasa, menjadi hidup baru, .. Yesus pengin jadi Katolik, dll.” Dalam hal ini Rm Ipung mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan “optio fundamentalis” yang merupakan pilihan paling dasar, bahwa Yesus menjadi member club kerajaan Allah. Allah mau terlibat dalam manusia, pergulatan, kegembiraannya yang real, maka inkarnasi tumbuh menjadi daging, menjadi manusia, tidak hanya tinggal dalam keabadian.

Hal ini di hubungkan profesi panggilan sebagai guru, dalam homilinya, ada pertanyaan reflektif: What is your deepest desire? What is your truly values/ virtues? Diingatkan oleh romo bahwa profesi guru bisa berpotensi sebagai “playing as God”, bisa menentukan hidup/ mati muridnya… banyaknya godaan di jaman ini. Untuk menghindarinya, kita mengikuti suara hati …, menjadi guru Katolik harus hadir secara otentik dan orisinal dengan mengembangkan nilai-nilai dasar kristiani.

Gembala berbulu Domba

Mengutip homili dari Paus Fransiskus, bahwa gembala yang baik adalah gembala yang tahu dan tidak meninggalkan domba-dombanya, dan ini dihubungkan dengan guyonan Rm. Ipong: “Guru yang baik adalah tahu tentang muridnya. Tahu ‘bau’nya, termasuk bau ‘prengus’, wangi, nggak pernah sisiran, ingusan maupun anak yang suka ngupil.” Menjadi guru jaman now, kita harus menjadi Gembala berbulu Domba. Kita harus ada di kontak real, bukan virtual. (HDK)